Redho Tunjukan Identitasnya Sebagai Orang Aceh Dalam Single Jatoe Droe


KECINTAAN seorang Redho kembali ditunjukan dalam single Jatoe Droe yang dirilis bersamaan dengan video musik, dan kali ini Redho mengajak Repi untuk berkolaborasi. Diambil dari bahasa Aceh, Jatoe Droe artinya jati diri yang membahas tentang identitas Redho sebagai orang Aceh.

Aktif sejak 2010 membuat Redho dan Repi semakin yakin akan industri musik hiphop yang mereka lakukan hingga sekarang, bahkan lagu bertajuk Lhokseumawe Tercinta sempat viral pada 2011 silam. Lagu tersebut gambaran tentang kebahagiaan masyarakat Lhokseumawe yang menjadi inspirasi mereka, begitu juga dengan single terbarunya tersebut.

"Saat ini masyarakat Indonesia, tidak terkecuali Aceh sedang menghadapi berbagai keterbatasan karena pandemi, tapi itu tidak menjadi penghalang untuk berkolaborasi dan berkreativitas," kata Redho melalui press release yang diterima acarakita.net, Jumat (25/6/2021) petang.

Apapun yang terjadi, lanjut Redho tidak ada yang lebih penting dari silaturahmi seperti project pariwisata kota Lhokseumawe yang mempersatukan beberapa musisi. Jatoe Droe sudah mulai digarap sejak awal Januari 2021 lalu, dan banyak tantangan yang
sebenarnya dilalui karena ingin menciptakan sebuah karya yang tidak biasa ini.

Rahmad lelo selaku producer dalam lagu ini diketahui adalah seorang musisi band (bassis) yang biasa bermain di genre seperti funk, blues & soul, kali ini harus berkolaborasi dengan rapper, dikarenakan ia tidak memahami sedikitpun tentang musik hiphop.

Seiring berjalannya waktu Redho dan Repi memutuskan untuk mengambil genre utama funk dalam karya kali ini mengingat Rahmad lelo expert dengan genre tersebut, tanpa menghilangkan unsur hiphop selain hanya rap mereka setuju untuk tidak memakai instrument drum akustik ataupun drum elektrik tetapi tetap dengan ketukan ciri khas oldshool yaitu boombap.

Tetapi mereka merasa kurang puas jika hanya dengan perpaduan antara Hiphop dan Funk saja hingga memutuskan untuk menambahkan beberapa unsur instrumen etnic Aceh juga seperti serune kalee dan rapai.



Untuk proses pembuatan lagu ini turut melibatkan seorang vokalis/syekh yaitu Firdaus atau lebih dikenal dengan nama Teungku Ranup turun mengambil bagian pada bagian pada bridge dengan suara khas nya dengan menggunakan bahas Aceh.

"Kami ingin mewujudkan supaya lagu Aceh tidak seperti lagu Aceh pada umumnya, meski begitu tetap easy listening namun tidak menggunakan kalimat baku karena kami sesuaikan dengan anak muda," ujar dia.

Musik video kali ini dipegang oleh Fiexar dari Galvio Films dengan beberapa bantuan dari rekan lainnya yang mengambil lokasi utama di Pioneer Camp Rancung tempat wisata Kota Lhokseumawe. Tujuannya, tidak lain untuk mempromosikan tempat rekreasi tersebut.
Copyright © Acarakita Indonesia. Designed by OddThemes