Sebuah artikel dari jurnal akademis International Journal of Culture Studies muncul ke permukaan setelah tweet “Tell Me Something I Don’t Know” diunggah pengguna Twitter. Tweet ini menyatakan bahwa KANGEN BAND pernah menjadi subjek penelitian akademisi Emma Baulch, seorang periset dan associate professor/profesor madya/lektor kepala Monash University, Malaysia. Saat rilis pers ini disusun, tweet tersebut sudah mendapat 4,2 ribu retweets dan 6,7 ribu likes.

Dalam artikel berjudul “Longing Band Play at Beautiful Hope” tersebut, Emma menuliskan soal bagaimana masyarakat mengonsumsi lagu dan panggung Kangen Band, serta bagaimana Kangen Band mendapatkan label ‘pop Melayu’ yang dianggap sebagai pembeda kelas musik pop Indonesia di awal 2000-an.

Pada awal karir Kangen Band, dalam artikel akademis Emma, disebut bahwa lagu-lagu mereka sudah hadir di ruang publik seperti mal, siaran radio, dan dijual di emperan. Kontrak dengan Warner Music Indonesia, disebut Emma, terbukti sukses melambungkan Kangen Band dari “band yang bukan siapa-siapa” menjadi bintang pop pada pertengahan 2000-an. Album Tentang Aku, Kau, dan Dia (Warner Music Indonesia, 2007) sebelumnya sudah beredar luas dalam format tak resmi/bajakan (“which had previously been so widely disseminated in unofficial formats”).

Di artikel itu, Kangen Band disebut tak memiliki ‘image’ yang bisa ditelusuri di awal karirnya. Video-video tak resmi mereka tidak menggambarkan siapa itu Kangen Band. Kontrak dengan Warner Music Indonesia berhasil menguak siapa saja personil Kangen Band, lewat video-video klip yang diproduksi.

Tren Ring Back Tone (RBT) yang hadir di awal 2000-an juga faktor penting yang menentukan popularitas Kangen Band pada masa itu, catat Emma. Rolling Stone Indonesia sempat menyatakan bahwa Kangen Band sebagai “juaranya RBT.”

Artikel ini dirilis di International Journal of Cultural Studies edisi Mei 2013 dan dapat diunduh di halaman ini atau di sini. Emma menyatakan bahwa judul “Longing Band Play at Beautiful Hope” tersebut merupakan versi pra-cetak.

Emma Baulch adalah Associate Professor di Fakultas Media dan Komunikasi, Monash University, Malaysia. Beliau memang sudah melakukan banyak studi terhadap berbagai fenomena budaya di Indonesia, khususnya musik.

Di halaman Academia-nya, riset dalam bentuk artikel soal musik Indonesia mendominasi daftar. Di tahun 2016, Emma pernah menulis soal majalah musik legendaris asal Indonesia, Aktuil, dengan judul “Genre publics: Aktuil magazine and its role in shaping critical middle class youth in 1970s Indonesia”. Di tahun 2014, Emma juga pernah mengangkat soal musik pop Melayu di Indonesia, dengan judul “Pop Melayu vs. Pop Indonesia: Marketeers, producers and new interpretations of a genre into the 2000s”. Dia juga pernah menuliskan soal Krisdayanti pada tulisannya yang berjudul, “Cosmopatriots”. Selain itu, dia pernah menulis buku soal skena punk dan metal di Bali tahun ’90-an dengan judul Making Scenes: Reggae, Punk, and Death Metal in 1990s Bali.

Emma juga sedang menyusun kumpulan tulisannya soal musik pop, teknologi, dan kelas di Indonesia, berjudul Genre Publics.

Menanggapi munculnya artikel akademis ini, Managing Director Warner Music Indonesia, Toto Widjojo memberikan komentar bahwa dari fenomena Kangen Band, maka kita akan mengetahui betapa luasnya penggemar musik di Tanah Air. Toto menambahkan, “Betapa banyaknya talenta di negeri ini, dan seiring dengan berjalannya waktu, karya-karya Kangen Band tetap banyak dinikmati oleh penggemar musik. Bahkan membuat Dr. Emma Baulch, PhD dari Monash University, membuat sebuah tulisan yang sangat menarik tentang Kangen Band.”

"Jika kalian benar-benar ‘Doy’ sejati, maka saya yakin kalian akan tertarik untuk membaca tulisan ini. Salam ‘Doy’ dan selamat bernostalgia bersama Tentang Aku, Kau dan Dia!" Pesan Toto.

Berdasarkan data dari Youtube, video-video Kangen Band punya angka konsumsi yang terbilang besar. Kangen Band memberikan berkontribusi sebanyak 209 juta views di kanal resmi Youtube Warner Music Indonesia sampai detik ini.

Angka tersebut seakan mendukung tesis Emma bahwa sosok Kangen Band yang dulu ‘tak terlihat’, hanya terdengar di ruang publik, akhirnya dapat muncul ke permukaan lewat ‘image’ khusus yang dikemas menarik.

Di Spotify, Kangen Band mendapat posisi khusus; didengar oleh lima negara Asia Tenggara dengan komunitas Indonesia yang solid. Selain Indonesia, top 5 pendengar Kangen Band tercatat berasal dari Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. Setahun ke belakang, konsumsi Kangen Band secara keseluruhan berjumlah 21 juta streams.