Bertepatan dengan momen 23 tahunnya, Santet dikabarkan merilis album ke-9 bertajuk Religion Lost pada Sabtu (10/10/2020) lalu. Mengambil tempat di Joss Food yang berada Jalan Gatot Subroto Purwokerto, seluruh personil Santet hadir menikmati momen tersebut.

Meski ditengah pandemi yang sedang terjadi secara global, justru membuat Santet tidak patah semangat berkarya. Hal tersebut yang menjadi modal utama band yang konsisten membawa genre Javannesse Black Metal ini bertahan hingga 23 tahun lamanya.

Yang unik dalam perilisan album ini adalah konsep boxset yang dihadirkan dengan dua bentuk album yakni dalam format cassette dan juga compact dist (CD) serta beberapa lainnya seperti kaos dan poster yang kesemuanya berjumlah 100 pcs, dan dijual terbatas.

"Nantinya ini akan kami pakai untuk mengadakan tour ke Bali, karena dari dulu bisa dikatakan tour yang kami lakukan berasal dari penjualan album dan merchandise. Termasuk saat kami tour ke beberapa negara di Asia Tenggara," kata vokalis Santet, Butet saat berbincang dengan acarakita.net, Sabtu (10/10/2020) malam.

Pemilihan nama album bukan tanpa alasan, menurut Butet tema dari album Religion Lost yakni tentang 'setan covid' yang menghantui semua sendi kehidupan manusia, termasuk yang terpenting sendi keyakinan atau agama. Menurutnya, banyak sarana agama ditutup karena wabah ini dan manusia meributkan.

"Tapi cari Tuhan dalam diri sendiri, banyak yang beragama tapi berlaku buas, brutal, bengis seperti kerasukan setan ketika sarananya ditutup demi kelangsungan hidup," ujar Butet.

Sembilan lagu dihadirkan Santet dalam Religion Lost dimana 6 diantaranya berkolaborasi dengan gitaris metal Indonesia seperti Andre Siksakubur, Musa Moses Bandwidth, Hestu Soulsick, dan lainnya. Butet berharap album ini menjadi pengingat yang kekal tentang kejadian pandemic yang luar biasa.


Santet juga kembali berharap untuk album Religion Lost kali ini dapat kembali menuntunnya ke level gigs internasional.