GUNA memajukan ekosistem pertunjukan dan festival musik di Indonesia, Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) resmi berdiri tepat saat hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2020) lalu. Selain itu, keinginan untuk bersama meningkatkan kualitas dan kuantitas karya pelaku industri musik Indonesia jugalah asosiasi yang dideklarasikan tujuh promotor musik besar di Indonesia ini ada.

Tujuh promotor musik besar tersebut yakni Dewi Gontha dari Java Festival Production, Dino Hamid dari Berlian Entertainment, Emil Mahyudin dari Nada Promotama, David Karto dari Synchronize Festival, Darshan Pridhnani dari Hype Festival, Donny Junardy dari Hammersonic Festival, dan Anas Syahrul Alimi dari Rajawali Indonesia.

"APMI sudah berbadan hukum dan mempunyai empat pilar utama yakni idea, network, education, dan innovation," kata Sekretaris Umum APMI, Emil Mahyudin melalui press release yang diterima acarakita.net, Sabtu (31/10/2020) siang.

Idea adalah yang berkaitan dengan kreatifitas untuk pertunjukan. Network akan menitikberatkan pada pembentukan dan perawatan jaringan kerja seperti sponsor, agen artis, musisi, vendor acara, pekerja lepasan industri yang memiliki ketrampilan khusus dan juga bekerja sama dengan pemerintah terkait aturan dan kebiijakan yang terkait dengan industri ini.

Education akan fokus pada diskusi dan pembelajaran bagi para promotor untuk bisa membuat sebuah pertujukan dan atau festival musik yang sesuai dengan standard internasional. Innovation yang akan jadi esensial karena pentingnya inovasi terbaru dalam festival atau pertunjukan musik yang bisa dipergunakan oleh semua pelaku industry untuk menciptakan tatanan kerja yang lebih bermanfaat dan efisien.

"Kami selaku pendiri bersepakat menciptakan visi dan misi yang sama untuk mengembangkan industri ini melalui program yang dapat menciptakan ide baru, edukasi, networking dan pengembangan lainnya guna mempersiapkan pelaku industri agar secara bersama sama dapat berkembang dan bersaing secara internasional," ujar dia.

Dino Hamid, yang juga adalah salah satu pendiri APMI, telah secara bersama diangkat menjadi Ketua APMI untuk memastikan tujuan asoasiasi ini didirikan dan dijalankan sesuai visi dan misi awal dimana AMPI akan mengajak para promotor festival musik di Indonesia untuk bergabung dan bersama sama menggerakkan industry yang menjadi bagian hasil karya anak anak Indonesia yang bisa memberikan kontribusi terhadap negara.

"Kehadiran APMI sebagai sebuah asosiasi formal promotor musik satu-satunya di Indonesia saat ini menjadi sangat penting, dengan adanya potensi yang cukup besarnya industri pertujunkkan dan festival musik di negeri ini. Kami ingin mencoba membangun ekosistem yang baik dan sustainable bagi pelakunya," kata Dino Hamid.

APMI diharapkan bisa menjalankan fungsi sebagai asosiasi promotor musik secara profesional. Besarnya bisnis industri live music namun belum ada satu wadah yang menyatukan akan menjadi hal penting yang akan jadi perhatian APMI. Apa yang dilakukan oleh APMI adalah satu lompatan penting dalam industri live music di Indonesia.

Di banyak negara, sudah ada asosiasi promotor maupun penyelenggara pertunjukan musik, semisal Association of Independent Festival (AIF), Music Venue Trust (MVT), Association of Festival Organisers (AFO), All Japan Concert & Live Entertainment,
bahkan Turki punya Tesder alias Turkish Promotor Association.

Keberadaan asosiasi ini penting bagi negara-negara yang menjadikan sektor pertunjukan musik sebagai salah satu sumber pendapatan, seperti Britania Raya maupun Amerika Serikat.

Upaya Pengembangan Industri Live Music Indonesia
Setidaknya sejak sewindu terakhir, industri live music di Indonesia makin meriah. Festival-festival besar seperti Java Jazz, Prambanan Jazz, Djakarta Warehouse Project, We The Fest, Hammersonic, Love Festival, hingga Synchronize Festival didatangi puluhan ribu penonton tiap tahun.

Selain itu, puluhan ribu tiket konser-konser skala internasional, yang mendatangkan kumpulan rocker seperti Scorpion atau Europe, musisi blues pop tenar John Mayer, hingga boyband Korea seperti Super Junior, selalu habis terjual dalam waktu cepat.

Hal hal tersebut menunjukkan besarnya potensi industri ini dan berapa banyak impact yang bisa diberikan kembali kepada pekerja industrinya, pariwisata dan kontribusi terhadap pemasukan negara. Sektor pertunjukan musik ini masih menyimpan beberapa masalah yang diharapkan bisa diselesaikan oleh APMI dengan cara bekerja dengan pihak lainnya.

Pertama, terkait statistik.
Hal ini mungkin terkesan tidak penting, namun hal tersebut akan sangat berguna untuk pendataan, pengembangan dan juga modal informasi yang bisa dipergunakkan negara maupun perusahaan asing yang ingin bekerjasama dengan pengusaha Indonesia terkait industri ini yang akan memberikan pengaruh terhadap diantaranya adalah musisi, vendor, pekerja tenaga ahli penyelenggaraan acara musik, pekerja kreatif dan lainnya.

Di Britania Raya, lembaga think tank musik seperti UK Music, rutin merilis laporan yang berkaitan dengan musik. Laporan seperti ini jadi penting karena, mengutip Nicky Morgan, mantan Sekretaris Bidang Digital, Kebudayaan, Media, dan Olahraga (2019-2020): bisa membantu pemerintah membuat kebijakan untuk sektor live music.

Pemerintah Kota London juga bekerjasama dengan UK Music untuk mendata klub-klub dan bar yang memainkan live music. Data ini kemudian berguna ketika pandemi datang dan pemerintah butuh data klub dan bar mana saja yang seharusnya mendapat bantuan untuk tetap bisa bertahan.

APMI ingin mengajak promotor-proomotor musik di Indonesia untuk bergabung menjadi anggota agar bersama sama menciptakan sebuah industri yang ideal dan bisa berguna bagi semua pesertanya. Follow instagram @apmi.id untuk informasi lebih lengkapnya dan mereka berharap promotor-promotor musik di seluruh Indonesia bisa menjadi anggota APMI, Karena ini juga dilandasi untuk kepentingan bersama yang lebih besar di industri showbiz Indonesia.