PENYANYI, penulis lagu, dan multi-instrumentalis asal Surabaya bernama Wizzy membuka halaman pertama dalam lembaran baru pergerakan secara independen dengan single bertajuk The Light. Secara garis besar, musiknya berputar disekitaran ranah R&B dan neo-soul dengan pendekata electronic.

Jika diibaratkan dengan karakter seseorang, bisa dibilang musiknya adalah seseorang yang apa adanya, simpatik, namun tak akan segan melontarkan 'persetan' dengan senyuman kepada siapa saja yang membutuhkannya. Ia menganggap We Are King, Erykah Badu, Solange, The Internet dan FKA Twigs sebagai sosok yang paling mempengaruhi perspektif kreatifnya.

Disamping itu, baru-baru ini ia terhasut oleh tata suara modular berkat Floating Points yang untuk pertama kali dalam hidupnya, Wizzy memusatkan diri menikmati kebebasan barunya dan membagikan pengalaman tersebut melalui garapan-garapan anyar yang tengah digodok, tanpa dibebani ambisi atau ekspektasi apapun selain milik dirinya sendiri.

"Semua pasti lagi berjuang didalam perangnya masing-masing. Sejatinya, nggak akan ada yang bisa menangin perang tersebut kecuali orang itu sendiri. Cuma kita yang bisa ngatur mau terus-terusan tenggelam dalam gelap, atau bangkit dan jalan dengan penerangan sendiri," katanya.

Melalui The Light, ia ingin menyampaikan bahwa kita selalu bisa punya titik terang sendiri, selama mau usaha dan ubah perspektif. Wizzy yakin, mimpi segila apapun dapat dicapai ketika mau menghargai prosesnya dan membawa hati dan pikiran kearah yang lebih baik.


Bagi Wizzy, masa pandemi dengan segala hingar-bingarnya merupakan a blessing in disguise, walau sejujurnya masih dipenuhi tanda tanya. Mengisolasi diri tidak dipandang sejajar dengan mengisolasi emosi, pikiran dan berkreasi. Alih-alih dilumpuhkan oleh keadaan, Wizzy lebih memilih untuk mengajak dirinya meneropong dengan perspektif lain.

Kini, ia meneruskan ajakan tersebut kepada khalayak luas melalui single terbarunya, The Light. Wizzy berkaca mengenai segala perubahan yang terjadi. Hipotesa pertama muncul ketika ia terpaku mempertanyakan aspek-aspek eksternal, namun tak lama ia semakin menyadari bahwa yang harus ia gali lebih dalam adalah pergelutan di dalam dirinya sendiri.

Sebagai latar belakang, Wizzy menjalani semasa hidupnya berada dibawah naungan label & manajemen arus utama ibukota, dengan kebebasan kreatif yang hampir nihil. Hari-hari ia lewati dengan satu mimpi yang kerap muncul di benaknya, yaitu melahirkan karya yang sepenuhnya sesuai dengan perspektif kreatifnya, menceritakan hal-hal riil yang benar-benar ia alami.

Namun, perannya sebagai tulang punggung keluarga sudah cukup untuk membuatnya menyimpan mimpi tersebut sebagai penghibur diri semata.

"Ini adalah kali pertama gue merilis lagu secara independen. Sebelumnya, gue kontrak 5 tahun dengan salah satu major label tapi gue seringkali tidak dilibatkan dalam proses kreatifnya, mulai dari pembuatan lagu, video klip, sampai pemasarannya, sehingga semua karya yang dirilis ketika itu tidak merepresentasikan gue dengan baik," ujar dia.

Tak disangka, kehadiran sebuah pandemi global justru menjadi suatu injakan tegas yang membuatnya melaju lebih jauh untuk merealisasikan mimpinya.

"Maret 2020 gue memutuskan untuk keluar dari label dan mengambil jalur independen. Beruntungnya, di bulan itu COVID-19 merajalela. Uang tabungan yang sudah gue simpan untuk membuat album independen nggak lama habis untuk kebutuhan hidup gue dan keluarga, rasanya bingung mau ngapain lagi," kata dia.

Ia menambahkan, berpikir jernih dimasa-masa sulit memang tantangan terberat, apalagi ketika otak dihajar nonstop mikirin gimana caranya biar tetep bisa biayain kuliah adek gue. Dulu, kata dia main source of income gue itu dari offline events, jadi sejak manggung nggak ada, ya income juga nol.

Dirinya sempat merasa frustasi dan anxiety setiap malem, tidak bisa tidur dan melihat keadaan kedua orang tua yang sudah semakin tua. Di pikirannya hanya satu, ia ingin membahagiakan keduanya selama masih ada dan itulah yang menjadi penggerak utama untuk membuat aransemen The Light.


Proses produksi lagu The Light menghabiskan waktu sekitar 1 bulan yang direkam di sebuah studio rumahan sederhana di Tangerang, setiap langkah dalam prosesnya terasa enteng dilalui karena keselarasan perspektif yang terbagi antara Wizzy dan para kolaborator.