SEBUAH karya yang lahir dari kegelisahan dan kemarahan terhadap realitas sosial yang semakin kompleks coba diperkenalkan Kausa dalam Extended Play (EP) terbarunya berjudul Merangkul Sakaratul. EP ini menjadi representasi suara yang lantang terhadap berbagai isu, mulai dari kekecewaan terhadap pemerintahan, semangat pembangkangan, hingga kritik terhadap kerusakan alam yang disebabkan oleh rezim yang berkuasa.
Judul Merangkul Sakaratul menggambarkan fase penerimaan terhadap kondisi yang berada di ambang kehancuran, baik secara sosial, moral, maupun ekologis. Alih-alih menyerah, Kausa mengajak pendengar untuk menghadapi dan merangkul realitas tersebut sebagai bentuk kesadaran dan perlawanan.
Bersamaan dengan perilisan EP ini, Kausa juga merilis video klip untuk salah satu lagu berjudul Contra Potestatem yang menjadi titik fokus dari keseluruhan narasi dalam EP, dengan pesan kuat tentang perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.
Visual dalam video klip tersebut memperkuat atmosfer gelap dan simbolik, menghadirkan interpretasi tajam terhadap dominasi, ketidakadilan, dan dampak dari sistem yang rusak. Secara musikal, Merangkul Sakaratul menggabungkan nuansa gelap, minimalis, dan intens, menciptakan pengalaman mendengar yang emosional.
Setiap trek dirancang sebagai bagian dari satu kesatuan cerita yang saling terhubung, membawa pendengar masuk ke dalam ruang kontemplasi sekaligus konfrontasi. Melalui karya ini, Kausa tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga membuka ruang dialog serta mengajak pendengar untuk berpikir, merasakan, dan mempertanyakan kembali realitas yang selama ini dianggap biasa.



