Beriklan Murah Disini

Partai Kedua Gigs Buitenstage Makin Panas Dengan Line Up Lintas Genre

BERTEMPAT di Kopi Wangsa Bogor, platform libe performance terkurasi bertajuk Buitenstage yang memasuki volume ke-2 sukses terselenggara pada Jumat (16/1/2026) lalu.

Acara yang digagas oleh Buitenfest dan Cadaazz Pustaka Musik ini menghadirkan sederet musisi indie lintas generasi dari berbagai kota, diantaranya Swazta dan Man Sinner asal Jakarta, Hurtslaves asal Depok, serta USIX dan Ambarila mewakili tuan rumah Bogor.


Sesuai dengan jargon Buitenstage yaitu Amplify Your Music, platform ini kembali menegaskan perannya sebagai ruang temu bagi musisi, media dan audiens dalam menghadirkan pengalaman live yang intim, relevan, dan berakar pada semangat skena independen.

Acara ini adalah konser musik dengan konsep gigs, digelar se-intim mungkin tanpa jarak antara musisi yang tampil dan penonton yang hadir," kata perwakilan Cadaazz Pustaka Musik, Fransiacus Eko.

Buitenstage, lanjut Eko juga didukung oleh rekan jurnalia musik nasional yang selama ini selalu support terhadap musisi tanah air melalui tulisan. Eko menegaskan, bahwa untuk musisi yang mempunyai karya baru, bisa jadikan Buitenstage sebagai etalase dan ruang memperkenalkan karya barunya tersebut.

Edisi kedua Buitenstage yang dipandu host Qenny Alyano dari Bolehmusic dan Yogi Hutabarat dari Buitenfest ini dibuka dengan penampilan Swazta, unit city pop asal Jakarta yang langsung menghangatkan malam itu dengan barisan lagu yang easy listening namun penuh energi.

Band yang dibentuk akhir 2025 ini membawakan lagu-lagu yang masuk dalam debut Extended Play (EP) mereka dengan rapi dan terkonsep, termasuk lagu andalan Di Bawah Langit Senja yang menampilkan tema refleksi dan mimpi.

Tanpa jeda panjang, setelah Swazta giliran Man Sinner mengambil alih panggung. Tanpa basa-basi, ‘laga tandang’ kuartet asal Cakung (jakarta Timur) pengusung skate punk ini langsung menggetarkan panggung Buitenstage dengan barisan lagu bertempo cepat dan penuh energi, termasuk nomor kolaborasi mereka dengan vokalis Rebellion Rose.

Band yang konsisten menyuarakan isu-isu sosial, lingkungan, perlawanan terhadap diskriminasi dan pesan perdamaian ini seakan menjadi penghangat cuaca Bogor yang malam itu cukup dingin menusuk.

Tensi tidak lantas menurun saat Man Sinner turun panggung dan digantikan oleh Hurtslaves dengan musik yang sarat gitar terdistorsi, dentuman bass dan drum yang menghentak. Unit alternative rock asal Depok yang dikenal dengan lirik emosional dalam benang merah musik rock ini sukses membawakan materi orisinil mereka, termasuk single debut yang berjudul I See A Stranger dan single terbaru Kelu dengan rapi dan solid.

Setelah adrenaline audiens dipacu dengan setlist bertempo rapat, tiba giliran band-band tuan rumah Bogor membawa suasana ke dimensi yang berbeda.

USIX yang mengusung musik bernuansa jazzy ini membuat suasana ‘mencair’. Tanpa malu-malu, USIX langsung membawakan single terbaru mereka yang berjudul Pupus sebagai pembuka dan ‘memaksa’ audiens untuk sing a long – membawa suasana semakin intim.

Ambarila yang didaulat menjadi penutup Buitenstage volume ke-2 ini tampil dengan deretan lagu bernuansa vintage, termasuk diantaranya single terbaru Hajumari dan Tuning Song.

Unit yang memasuki fase baru perjalanan dari format duo dan kini berkembang menjadi band penuh ini tampil interaktif dengan pendekatan ‘story telling’ khas mereka. Hal ini membuat audiens bukan sekedar menonton, tapi bagian menjadi bagian dari show mereka.


Melihat antusiasme penonton yang hadir pada malam itu, semakin menegaskan bahwa ruang kreatif seperti ini sangat dibutuhkan.

Kolaborasi antara venue yang suportif, line up yang terkurasi dengan baik, penyajian acara yang terorganisasi dengan bapik serta antusiasme sambutan hangat penonton menjadikan platfom ini sebagai salah satu agenda musik yang patut dinantikan kehadirannya kembali.

Mewakili Buitenfest, Anang menjelaskan bahwa Buitenstage lahir dari pemikiran sederhana dimana momen dan emosi saat musisi memainkan karya secara langsung didepan audiens adalah sesuatu yang tak bisa digantikan oleh layar apapun.

Digital itu penting, tapi koneksi langsung antara musisi dan pendengarnya adalah yang utama," kata Anang.

Anang menegaskan, bahwa melalui kolaborasi antara musisi, media, label musik dan manajemen artis dalam Buitenstage ini harapannya dapat memperluas jangkauan karya musisi independent dan ngasi dampak positif bagi ekosistem musik.
Lebih baru Lebih lama

ads

Adidas

ads

نموذج الاتصال